BBPOM Sita Jamu Tradisional Berbahaya
- Wednesday, November 19, 2008, 10:47
- News
- Add a comment
BANDUNG - Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung merazia 54 obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras (BKOK) di sejumlah toko atau kios jamu di Kota Bandung, Jumat (13/6) menyusul public warning yang dikeluarkan Badan POM.
Dari hasil penulusuran tersebut, BBPOM berhasil menyita ribuan jamu yang membahayakan kesehatan tersebut.
Penelusuran disebar di Bandung barat, Bandung timur dan Bandung tengah yaitu di Cicadas, Kiaracondong, Cibaduyut dan Cileunyi. Dari lokasi-lokasi tersebut, ternyata masih banyak pedagang yang menjual jamu yang mengandung BKO tersebut.
Berbagai alasan diungkapkan para pedagang. Namun kebanyakan berdalih tidak tahu bahwa ada kandungan BKO pada jamu serta kurangnya sosialisasi tentang jamu berbahaya ini. (nip)
Kepala Seksi Sertifikasi dan Layanan Konsumen BBPOM Bandung, Siti Nuraniah, dari hasil pengawasan obat tradisional dengan metode sampling dan pengujian laboratorium selama 2007, dalam jamu tradisional tersebut terkandung BKO keras seperti sibutramin hidroklorida, sildenafil sitrat, siproheptadin, fenilbutason, asam mefenamat, prednison, metampiron, teofilin, dan parasetamol yang besarnya tidak sesuai dengan dosis terapi.
Meski sudah sejak tahun 2007 peringatan dikeluarkan oleh Badan POM, namun ternyata jamu- jamu BKO ini masih banyak diperjualbelikan khususnya di kios-kios jamu.
Menyikapi inilah, Badan POM kembali mengeluarkan public warning mengingat bahaya yang bisa ditimbulkan akibat mengkonsumis jamu-jamu ini.
Seperti BKO berbahaya fenilbutason ditemukan terkandung antara lain pada jamu tradisional merek :
* Pacegin Kapsul Alami,
* Jasa Agung 2 serbuk,
* Jawa Dwipa Cap Daun Sambiroto,
* Pegal Linu + Asam Urat Cap Burung Glatik serbuk, dan
* Tablet Asam Urat Pegal Linu.
Penambahan bahan kimia obat dalam produk obat tradisional itu, lanjut Nuraniah, tidak dilakukan sesuai dosis terapi, seringkali tanpa hitungan, asal campur saja. Itu bisa menyebabkan kerusakan organ dan bahkan kematian.
“Kami juga menghimbau kepada para konsumen untuk tidak mengkonsumsi jamu yang tidak jelas kandungannya. Leih baik mengkonsumsi jamu yang benar-benar mengandung bahan tradisional tanpa campuran BKO dan dari produsen yang sudah jelas,” kata Nuraniah. (dikutip dari website www.isfinational.or.id)


